Skip to content

… karena “Metilon (methylone) bukan katinona (cathinone) …”

Februari 10, 2013

“Sesuai dasar molekulnya dan efek farmakologi, methylone sama dengan chatinone” (Kombes Mufti Djusnir)

DosGil sepakat tulisan berikut: http://metro.kompasiana.com/2013/02/01/Fakta-sesataneh-kasus-BNN-Methylone-Raffi-dkk-530554.html. Jika argumen aneh dan “sesat” dari sudut pandang kimia farmasi (pharmacochemistry) atau lebih populer dengan kimia medisinal (medicinal chemistry) ini diterima secara hukum maka setidaknya ada dua preseden buruk yang sempat terpikir oleh DosGil:

1. Matinya perkembangan ilmu kimia farmasi/kimia medisinal di Indonesia. Dengan aktivitas yang menjadi acuan “kebaruan”, maka setiap senyawa baru tidak bisa dikembangkan ataupun dipatenkan jika memiliki aktivitas yang sama dengan salah satu dari ratusan ribu obat yang beredar di pasar, bahkan jika potensinya jauh lebih baik. Dari sudut pandang kimia medisinal, kebaruan terutama dilihat dari struktur kimia (secara tiga dimensi) bukan aktivitas. Klaim kebaruan berdasar aktivitas jauh lebih lemah dibanding struktur kimia. Melihat contoh phenacetine dan paracetamol di mana phenacetine adalah turunan paracetamol dan keduanya memiliki aksi farmakologi yang mirip, masing-masing (pada waktunya) dilindungi oleh dokumen paten yang berbeda dan dimiliki oleh perusahaan yang berbeda pula.

2. UU No. 35/2009 tentang Narkotika menjadi sangat fleksibel, tidak kaku dan beku seperti bahasa hukum/undang-undang. Ketika kata “turunan” dilekatkan pada cathinone untuk menjerat methylone maka setidaknya ada 3568 senyawa lain (yang dapat diakses dan diperoleh di http://zinc.docking.org/) yang merupakan turunan cathinone yang terjerat sebagai narkotika. Belum lagi jika masing-masing senyawa pada daftar di lampiran UU ini dicari turunannya. Hal yang semakin membuat aneh pemaksaan kata “turunan” pada kasus methylone ini mengingat pada UU ini kata turunan juga dipakai untuk “turunan morfina nitrogen pentafalent lainnya termasuk bagian turunan morfina-N-oksida, salah satunya kodeina-N-oksida”. Oh ya, menurut DosGil, methylone lebih pas disebut turunan MDMA (narkotika kategori 1 nomor 37) daripada turunan cathinone (narkotika kategori 1 nomor 35).

Dalam hal ini, pembuat UU sudah cukup jelas dan tegas, namun kurang up to date. Alih-alih memaksakan kata “turunan” yang tidak ada pada UU, disarankan melakukan addendum dengan menambah methylone. Jika memungkinkan daftar dapat ditinjau dan dievaluasi setidaknya setiap semester dengan melibatkan ahli kimia medisinal. Untuk kasus methylone, yang menurut DosGil tidak dipayungi UU No. 35/2009, sementara dapat digunakan peraturan perundang-undangan lain tentang obat yang lebih relevan.

*Pogung, 10 Februari 2013, 12:23 WIB

Iklan

From → Karena ...

One Comment
  1. inilah kenapa bikin undang-undang itu susah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: